Sunday, 16 November 2014

Imam Hanbali diajar bersabar oleh pelaku maksiat

Apabila Kamu Tidak Mampu Jadi Seperti Ahmad Bin Hanbal.

Maka Jadilah Sekurang-kurangnya Seperti Abu al-Haitham!

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (anak Imam Ahmad) pernah berkata:

Aku selalu mendengar ayahku menyebut dalam doa beliau:

Ya Allah Engkau ampunilah Abu al-Haitham
dan Engkau sayangilah beliau.

Lalu aku bertanya kepada ayahku: Siapakah Abu al-Haitham itu wahai ayahku?

Jawab Imam Ahmad: Beliau adalah seorang lelaki kampung/badwi yang aku tidak sempat melihat wajahnya.
 
Pada malam aku disebat (disebabkan fitnah khalqul Quran) mereka telah memasukkan aku ke bilik seksaan.
 
Maka aku telah ditarik (daripada belakang) oleh seorang lelaki lalu dia bertanya: Adakah kamu Ahmad bin Hanbal?
 
Maka jawabku: Ya.
 
Dia bertanya lagi: Tahukah kamu siapakah aku?
 
Aku menjawab: Tidak.
 
Lalu lelaki itu berkata: Aku adalah Abu al-Haitham yang merupakan seorang pencuri, peminum arak dan perompak di jalanan. Telah tertulis dalam rekod Amirul mukminin bahawa aku telah dipukul sebanyak 18 000 sebatan atas pelbagai kesalahan yg berbeza.
 
Sesungguhnya aku sabar menjalani hukuman ini dalam (kesesatanku) ketika aku berada di atas jalan syaitan. Maka sabarlah kamu di atas jalan Allah wahai Ahmad !

Berkata Imam Ahmad: Setelah mereka mengikat aku maka apabila setiap sebatan singgah di belakangku , maka akan aku ingati kata-kata Abu al-Haitham lantas aku berkata kepada diriku: Wahai Ahmad! Sabarlah kamu di atas jalan Allah.

*Apabila kamu tidak mampu jadi seperti Ibn Hanbal maka jadilah seperti Abu al-Haitham!
Cintailah kebenaran walaupun ketika kamu sedang lemas dalam kebatilan…

Cintailah insan yang taat kepada Allah sedangkan kamu masih tenggelam dalam kemaksiatan….

Tetaplah kamu bersama Allah ketika mana syaitan menguasai dirimu…
Alangkah indah andai perasaan ini menyerap dalam setiap jiwa muslim…

Cintailah manusia yang sentiasa mengharapkan ganjaran daripada Allah…
Maka apakah penghalang untuk kamu berbuat demikian?
 
Sesungguhnya aku amat bangga dengan agamaku, aku akan mempertahankannya dan aku akan tetap teguh kerananya. Aku mempertahankan agama ini atas dasar sebuah kemuliaan..
 
Walaupun aku seorang pendosa…namun agamaku adalah agamaku dan Tauhid merupakan perkara yang paling utama!

Punca kapten San Jin Gu memeluk Islam


 
KAPTEN San Jin-Gu adalah salah satu komandan Brigade-11 SF, pasukan perdamaian PBB dari Korea Selatan yang ditugaskan di Irak. Kejadian telah berlaku pada masa lalu.

Kapten San dan pasukannya bertugas di wilayah Irbil, Irak Utara. Saat bertugas di wilayah tersebut, ia sering mengamati orang-orang muslim solat berjamaah di masjid, kebetulan markas pasukannya berada dekat masjid. Ia sangat terpegun dengan gerakan-gerakan solat. Karena dihinggapi rasa penasaran, ia mencoba menirukan seluruh gerakan solat lalu dipraktikkan di kamarnya sendirian. Pada saat mempraktikan itulah ia merasakan ada semacam rasa ketenangan dan perasaan damai dalam hatinya.
Itulah sebabnya, gerakan-gerakan solat tersebut kemudian ia jadikan program meditasi di pasukan yang dipimpinnya (disamping Yoga), dan ternyata sebagian besar prajurit setelah mempraktikkan gerakan-gerakan solat tersebut merasakan hal yang sama, mereka juga merasa lebih tenang dan damai.
Sejak itu Kapten San berinisiatif mempelajari Islam untuk mengenalnya lebih dalam lagi, dan akhirnya ia memutuskan untuk memeluk Islam.
Ketika niatnya ingin memeluk Islam disampaikan kepada prajurit-prajuritnya, ia berkata: “Aku telah menemukan cahaya kehidupan yang sesungguhnya, aku ingin berada dalam cahaya itu, dan cahaya itu adalah Islam”.
Tanpa ia duga, secara spontan 37 prajurit yang ia pimpin mengangkat tangan mereka, sebagai tanda ikut bersama komandanya – untuk juga memeluk Islam.